Desa Samberembe, terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, desa ini memiliki konsep jitu untuk mengurangi laju urbanisasi dengan cara menciptakan desa wisata yang memberdayakan seluruh kalangan masyakat di bidang wisata khususnya pertanian dan perikanan.
Konsep minapadi dan ugadi adalah salah satu inovasi yang diadaptasi di desa Samberembe sebagai suatu bentuk usaha tani gabungan yang memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami padi sebagai kolam untuk budidaya yang memaksimalkan hasil tanah sawah. Mina padi dengan demikian meningkatkan efisiensi lahan karena satu lahan menjadi sarana untuk budidaya dua komoditas pertanian sekaligus.
Sedangkan ugadi adalah sistem budidaya terpadu tradisional antara udang galah dan tanaman padi di sawah program percontohan tersebut diperkirakan bisa memanen hingga 1 ton udang galah dari 50 ribu bibit. Udang galah dan padi akan dipanen hampir bersamaan dengan masa budidaya selama tiga bulan. Sistem pembudidayaan udang galah bersama padi dinilai dapat menghasilkan panen yang lebih banyak. Berdasarkan perhitungan petani, panen padi kering varietas Ciherang bisa mencapai 11,2 ton perhektar, varietas mandala 12,5 ton perhektar dan Ir 64 super sebanyak 11,04 ton per hektare. Sementara untuk pertumbuhan ikan meningkat 2 – 3 kali lipat dibanding memelihara ikan di kolam biasa. Di samping itu, serangan hama tikus bisa diminimalisasi karena sawah dikelilingi parit.
Konsep budidaya tersebut coba diperkenalkan di desa Samberembe ini, dengan harapan dapat mengedukasi masyarakat khususnya kaum millenial.
Selain budidaya minapadi dan ugadi, di lokasi ini juga dapat ditemukan kegiatan seperti outbond, seni budaya dan juga aneka macam kuliner.
0 Comments