Palembang - Perikanan tangkap perairan umum di Indonesia merupakan sumber daya pangan dan pendapatan bagi rumah tangga pedesaan dan juga berfungsi sebagai sumber protein yang berharga dan nutrisi yang penting. Namun demikian, keberlanjutan perikanan perairan umum menjadi semakin terancam oleh proyek pembangunan sungai serta konstruksi hambatan lintas sungai seperti bendungan, bendung, jalan, dan semacamnya.
Gunan mewujudkan sumber daya ikan yang berkelanjutan, Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang, berencana untuk menerapkan metode fish passage di disungai-sungai yang telah dibangun dam untuk irigasi maupun pembangkit listrik yang tersebar di Sumsel. Fish passage dinilai sebagai langkah mitigasi yang tepat untuk untuk mengembalikan populasi ikan khas Sumsel.
Dalam kegiatan diskusi International Class Fish Passage in Inland Fisheries yang diselenggarakan oleh BRPPUPP Palembang, yang dihadiri oleh peneliti dari Charles Sturt University (CSU) Australian, Lee Baumgartner dan Prof Muhayatun dari Badan Tenaga Nuklir Nasional, (BATAN), pada tanggal 3 Juli 2018, Kepala BRPPUPP Palembang, Dr Arif Wibowo menyampaikan peranan penting dari seluruh elemen masyarakat, khususnya stakeholder dalam mewujudkan keberlanjutan perikanan perairan umum di Sumsel.
"Harapannya semua stakeholder mengerti tentang apa yang dimaksud dengan fish passage, kemudian bagaimana semua instansi seperti dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan bisa mengetahui bahwa jalur ikan adalah alternatif meningkatkan sumber daya ikan, ini yang akan kita sampaikan," paparnya.
Fish passage adalah konstruksi bangunan air yang ditujukan untuk memfasilitasi ikan agar bermigrasi melewati dam baik ke hilir maupun ke hulu. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menyediakan fish passage yang efektif diantaranya faktor biologi, fisiologi ikan serta faktor teknis seperti konstruksi fish passage. Melalui metode fish passage yang tepat guna, spesies ikan lokal pun akan muncul kembali. Metode ini pun sudah diterapkan di 40 negara dan berhasil.
Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi bahwa sektor perikanan umum dapat penopang pertumbuhan ekonomi di Sumsel. "Sumsel sudah menjadi referensi nasional pusat perikanan air tawar. Sumsel akan menjadi pilot project pengembangan metode program tersebut, nanti satu-satunya jalur ikan yang diterapkan di Sumsel diharapkan dapat menjadi referensi dunia," tegas Arif.
Perairan umum di Sumsel yang akan dijadikan sebagai percontohan yakni Sungai Komering. Sungai ini merupakan salah satu dari sembilan anak sungai dari Sungai Besar Musi, yang mengalir dari Gunung Seminung, dengan perkiraan panjang 626 km. Sungai Komering memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, tercatat setidaknya 55 spesies ikan yang ditemukan dalam sistem, di mana 21 spesies berasal 5 keluarga (Balitoridae, Cobitidae, Cyprinidae, Schilbeidae dan Sisoridae) selama periode 1987-1988. Perubahan hidrologi di sungai setelah pembangunan bendungan Perjaya pada tahun 1991 di hulu Komering diyakini menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi keragaman populasi ikan.
0 Comments